Kamis, 04 Februari 2010

Hikmah Hukum Islam

Berpikir dimaknai sebagai aktifitas memahami, menganalisa, dan menilai sesuatu. Proses berpikir manusia melibatkan indera. Bila seseorang tidak dididik dengan pengetahuan moral, maka dia akan menilai baik apa yang ditangkap oleh panca inderanya. Misalnya, tayangan kekerasan di televisi mengilhami seseorang untuk melakukan tindakan kekerasan mengikuti cara yang dia lihat di televisi. Tayangan pornografi yang dia saksikan di ponsel, televisi, dan alat-alat elektronik lainnya, mengilhaminya untuk menirukan gambar-gambar visual yang dia lihat. Seseorang memikirkan apa yang mereka lihat, cium, dengar, raba, dan rasakan. Dari sinilah secara perlahan membentuk kepribadiannya.

Lingkungan memberikan pengaruh besar terhadap perubahan perilaku (akhlak) seseorang. Ahli-ahli psikologi mengemukakan, orang-orang yang tinggal di lingkungan yang baik dan bergaul dengan orang-orang yang baik berpeluang memiliki perilaku yang baik. Sebaliknya, orang-orang yang tinggal di lingkungan yang buruk dan bergaul dengan orang-orang yang buruk berpeluang memiliki perilaku yang buruk.
Sebelum ahli-ahli psikologi berpendapat demikian, sebenarnya lebih 14 abad yang lalu Islam telah lebih dulu menyatakanya, bahkan lebih jauh Islam telah mengaplikasikannya melalui hukum-hukum syariat. Hukum-hukum Islam lebih banyak berkaitan dengan pemanfaatan dan pencegahan fungsi indera dari informasi-informasi yang negatif. Ketika indera menjadi pintu pertama dalam proses berpikir manusia yang berperan besar dalam perubahan perilaku manusia, maka Islam cepat-cepat menutup pintu pertama itu dari pengaruh informasi-informasi negatif.

Islam memerintahkan manusia untuk menutup aurat dan menahan pandangannya, ini maksudnya upaya menjaga pandangan manusia dari hal-hal yang negatif. Islam melarang ghibah, namimah, berkata kotor dan lain-lain, serta melarang manusia untuk mendengarkan perkataan-perkataan negatif, ini maksudnya upaya menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang tidak baik. Islam memerintahkan manusia untuk menjaga kebersihan dengan mewajibkan menyucikan badan, tempat, dan pakaian dari najis, bahkan membagi najis menjadi tiga: mukhofafah, mutawasithoh, dan mughalazhoh, ini maksudnya upaya menjaga hidung manusia dari mencium hal-hal yang tidak baik. Islam memerintahkan manusia mengkonsumsi makanan yang halal lagi baik, ini maksudnya upaya menjaga lidah dari merasakan hal-hal yang tidak baik. Islam melarang zina dan hal-hal yang mengarah kepada zina, ini maksudnya upaya menjaga kulit dari merasakan hal-hal yang tidak baik.

Perintah dan larangan Allah kepada hamba-hamba-Nya manfaatnya bukanlah untuk Allah, karena Allah tidak butuh kepada makhluk, melainkan untuk makhluk itu sendiri. Setiap larangan pasti mengandung dampak negatif bagi manusia. Seperti larangan membuka aurat bagi wanita, misalnya, yakni agar mereka terhindar dari pandangan-pandangan liar dan pelecehan seksual yang ujung-ujung menggiring pada perzinahan dan perkosaan.

“Fatwa haram rebonding dan perempuan naik ojek”
Banyak masyarakat yang menentang fatwa dari Lirboyo tersebut (ini yang saya saksikan di televisi), termasuk di antara mereka adalah tetangga-tetangga saya. Hal ini disebabkan oleh berita-berita di televisi yang sepertinya berusaha menggiring opini publik untuk menyatakan bahwa pesantren merupakan institusi pendidikan yang jumud, saklek, dan anti kemajuan.

Pandangan masyarakat tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena sebagaian besar dari mereka adalah orang-orang awam, yang tentu saja berkarakter stereotipikal. Apa yang mereka lihat di televisi demikianlah itulah yang menjadi pemahaman mereka. Mereka tidak lagi berpikir kritis faktor-faktor apa yang melatarbelakangi pengharaman itu? KH. Azizi Hasbullah memang telah menjelaskan alasannya dalam acara Topik Malam ANTV beberapa waktu lalu, yakni motif tasyabbuh bil fussaq. Tapi, mereka juga tidak mengerti istilah berbahasa arab itu.

Saya menilai, keputusan bahtsul masa-il itu tidak salah, yang salah adalah proses komunikasi yang dijalankan oleh –dalam hal ini- pondok pesantren Lirboyo (belum seslesai).

Rabu, 20 Januari 2010

Maulid, momentum kebangkitan

Hanya 23 tahun Rasulullah saw. berdakwah kepada masyarakat Arab. Menakjubkan, dalam waktu yang sesingkat itu beliau berhasil mengislamkan seluruh semenanjung Arab. Beliau sukses mengubah bangsa Arab dari bangsa yang biadab menjadi bangsa yang beradab; dari bangsa yang terbelakang menjadi bangsa yang memimpin peradaban dunia selama berabad-abad; dari bangsa yang terpecah dalam suku-suku dan kelompok-kelompok yang saling bertikai satu sama lainnya menjadi sebuah bangsa yang bersatu dalam dalam ikatan politik dcan ukhuwah islamiah yang kokoh.

Dalam masa yang minim tersebut, beliau juga telah sukses mencetak kader-kader yang tangguh, militan, dan ikhlas dalam meneruskan dakwah Islamiah. Lahir dari didikan beliau pemimpin-pemimpin besar, penakluk-penakluk hebat, dan ilmuwan-ilmuwan ulung yang membawa Islam ini menguasai hampir separuh dunia serta membawa peradabannya yang agung memimpin peradaban dun ia selama berabad-abad.

Apa rahasia kesuksesan Rasulullah saw.?

Menelaah biograpi kehidupan Rasulullah saw sejak lahir hingga wafatnya, ada tiga faktor yang berperan penting atas keberhasilan dakwah beliau: (1) ajaran suci yang dibawa Rasulullah saw. (baca: Agama Islam); (2) pribadi beliau yang berhiaskan akhlakul karimah (akhlak mulia); dan (3) kecintaan yang begitu besar sahabat-sahabat beliau kepada beliau.

Ajaran suci berupa ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. yang mencakup akidah, hukum syariat, dan etika telah membuka mata dan pikiran bangsa arab bahwa kebudayaan dan sistem keyakinan yang mereka genggam dan yakini selama ini sungguh sangat rapuh untuk dipertahankan, karena tidak sesuai dengan garis fitrah manusia dan akal sehat. Nabi Muhammad saw., berdasarkan perintah Allah dalam Alquran, menyeru kepada orang-orang gurun itu supaya hanya menyembah Tuhan yang Satu, yang menciptakan alam semesta dan yang mengatur kehidupan. Beliau saw. menganjurkan mereka untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengangkat derajat kaum wanita, menyantuni kaum fakir, miskin, dan anak-anak yatim yang selama ini direndahkan dan disia-siakan. Beliau saw. menyatakan kepada mereka bahwa manusia dibedakan berdasarkan ketakwaannya kepada Tuhan, bukan berdasarkan keturunan, kedudukan, dan harta yang dimiliki yang selama ini hidup berdasarkan kelas-kelas tertentu. Beliau saw juga menganjurkan mereka agar menjalankan kegiatan ekonomi secara jujur dan adil yang selama ini penuh dengan kecurangan dan penipuan.
Akhlak dan kepribadian Rasulullah saw. yang sangat mengagumkan memesonakan orang-orang Arab pada waktu itu sehingga mereka tertarik mengikuti beliau. Mereka melihat Rasulullah sebagai orang yang sepanjang hidupnya tak pernah sekalipun berdusta, bahkan karena itulah mereka menjuluki beliau al-amin yang artinya orang yang dapat dipercaya. Dalam hal bertetangga, beliau senantiasa berbuat baik kepada tetangga-tetangganya meski beliau sendiri menerima balasan sebaliknya. Beliau sangat mencintai sahabat-sahabatnya seperti mencintanya dirinya sendiri. Beliau senantiasa membantu sahabat-sahabatnya yang kesulitan dan kekuarangan meski beliau sendiri sangat kurang dan sulit. Beliau lemah lembut kepada siapa saja dan selalu tersenyum kepada siapa saja yang ditemuinya meski orang itu pernah menyakitinya. Beliau tidak pernah marah, membenci, apalagi menaruh dendam kepada siapa. Beliau hanya marah kepada orang-orang yang keras perlawananya kepada Islam. Rasanya tak akan cukup ruang untuk menuliskan segala kepribadian beliau di sini. Cukup firman Allah swt yang mewakili seluruhnya, “Sungguh di dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang bagus”.

Loyalitas penuh yang bersumber dari kecintaan yang begitu besar sahabat-sahabat Rasulullah saw kepada Rasulullah saw menjadi senjata ampuh dalam keberhasilan dakwah Islam awal. Para sahabat begitu patuh kepada Rasul mereka dan junjungan mereka, Muhammad saw. Tak sedikitpun mereka membantah apalagi menentang apa yang diperintahkan dan dilarang oleh beliau saw. Mereka mengimani secara penuh dan apa yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah saw tanpa sedikitpun menggugatnya atau memperdebatkannya. Begitu banyak riwayat yang menceritakan para sahabat yang rela mengorbankan apa saja yang mereka miliki untuk membantu dakwah Rasulullah saw, bahkan hingga nyawa sekalipun.

Ketiga faktor di atas tak dapat dipisahkan satu sama lain, ketiganya saling mempengaruhi dan menopang. Kaum muslimin periode awal meletakkan ajaran Islam sebagai landasan dcalam bersikap dan bertindak sementara figur Rasulullah saw dijadikan sebagai model untuk penerapannya. Kedua hal ini kemudian dibungkus dengan kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad saw hingga menjadi spirit dalam perjuangan mereka.

Peringatan maulid Nabi Muhammad saw. merupakan momentum untuk kita mengaktualisasikan dan mengaplikasikan nilai-nilai kepribadian beliau dalam kehidupan kita sehari-hari, juga sebagai momentum untuk menambah kecintaan kita kepada beliau.